Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

21 Des 2013

Liburan Akhir Tahun di Singapura

Negara kecil yang maju, makmur dan tertib, inilah kesan pertama yang tertangkap olehku ketika pertama kali menginjakkan kaki di Singapura.

Akhirnya setelah direncanakan selama satu tahun, aku dan udul2 sampai juga di Negara tetangga Singapura. Aku berangkat dari Bali dengan menumpang Pesawat Air Asia dan keesokan harinya dengan menggunakan speed boat pacific ferry jurusan Batam aku jemput si udul2. Kami menginap di Hotel Grand Hyatt Singapura di daerah Scoot Rd yg hanya berjarak beberapa meter dari Orchard Rd yang terkenal itu.

Tak banyak yang bisa aku ceritakan dari perjalanan kami kali ini. Sepanjang mata memandang yang ada hanya gedung-gedung pencakar langit, ratusan pusat-pusat perbelanjaan, mobil-mobil keren, MRT yg terletak di bawah tanah, pejalan kaki yang berjubel dan beberapa ikon khas Negara tersebut seperti Patung Singa Merlion, Gedung Esplanade, Sentosa Island, dll. Dari segi makanan, aku hanya mencicipi Chinese Food kesukaanku yaitu ayam dan bebek panggang.

Setelah melewati 4 hari 3 malam di Singapura, kami pun akhirnya pulang ke Bali dengan menumpang pesawat Garuda Indonesia dan sampai di Bali dengan selamat setelah 2,5 jam perjalanan.

Jika ditanya aku menikmati apa tidak berlibur di Singapura, jawabanku tidak. Entah mengapa aku merasa suntuk, mumet dan sumpek melihat keadaan sekelilingku selama disana. Tak ada udara sejuk, tak ada pemandangan hijau membentang, tak ada pantai-pantai indah yang bersih. Tapi aku menikmati setiap momen kebersamaanku dengan si Udul2. Melihatnya tersenyum adalah kebahagiaan yang tidak ternilai oleh apapun. Bagiku kebahagiaan nya adalah hidupku.














Grey 2013

2 Des 2013

Mabuk Pesawat yang Menyebalkan

Dari sekian banyak moda transportasi yang ada, pesawat terbang adalah yg paling menyiksaku. Jika diambil skalanya, 9 dari 10 penerbangan yg aku tumpangi membuatku mabuk. Payah? iya aku payah jika sudah di dalam pesawat. aku merasa begitu kesal dan dongkol, perasaanku gelisah dan aku benar2 tidak bisa mengendalikan diriku setiap kali masuk ke dalam kabin pesawat terbang. dan efeknya adalah banyak kejadian memalukan yg aku alami, baik di dalam pesawat maupun setelah turun dari pesawat.

Adapun kejadian yang paling memalukan setelah penerbangan buatku yang mungkin tak akan pernah aku lupakan adalah ketika aku dan si Udul2 berlibur ke Yogyakarta. Waktu itu aku berangkat dari Bali dan dia berangkat dari Batam. Seperti biasa, setelah turun dari pesawat kepalaku terasa sangat berat, perutku mual dan wajahku pucat. Kebetulan flight ku tiba satu jam lebih awal dari flight nya si udul2 jadi aku berfikir untuk sejenak menenangkan diri dengan duduk di daerah sekitar depan pintu kedatangan. Kulepaskan tas ransel hitam dari punggungku dan aku bersandar pada salah satu tiang yang ada di depan counter taxi bandara. Sampai dengan pesawatnya si udul2 mendarat di Jogja, keadaanku tidak juga membaik. Setelah bertemu dengan si Udul2 dalam keadaan yg acak2an, akhirnya kami pun memanggil taxi dan pergi ke hotel yg sudah kita pesan sebelumnya. Ditengah perjalanan, si udul2 memberiku tissue untuk mengelap keringat yang terus bercucuran di wajahku terutama yang keluar dari atas bibirku. Sesampai di hotel, aku langsung membasuh wajahku dengan air hangat, dan meminum banyak air putih tetapi tidak langsung membuat kondisiku membaik. Aku memerlukan sekitar setengah hari untuk menormalkan kondisiku seperti semula.

Pertemuanku dengan si Udul2 di Yogyakarta adalah pertemuan pertama kami, dan jika aku bertanya padanya sebuah pertanyaan "momen apa yang paling berkesan buatmu di saat pertemuan kita yang pertama?" maka jawaban si Udul2 adalah: "Ciuman pertama kita karena saat kita berciuman, mulutmu bau orang mabuk yang membuatku tidak nyaman." OMG, iya benar, dia benar2 mengatakan itu padaku dan aku hanya bisa tertunduk malu dibuatnya :( . 




17 Nov 2013

UDUL2 vs KETIAKKU

Kebiasaan apa yg biasanya dilakukan oleh pasangan kalian saat kalian sedang bersama??? Nah ini dia yang akan aku bagi saat ini.

Liburan pertama kami di Yogya sekaligus menjadi pertemuan pertama kami. Masih jelas sekali di ingatanku pertama kalinya aku melihat dia keluar dari pintu kedatangan di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Ah seperti mimpi yang jadi kenyataan rasanya. Singkat cerita, malam harinya ketika aku sudah tertidur nyenyak tiba-tiba aku rasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di ketiakku. Spontan aku terbangun dan mendapati Si Udul2 sedang sibuk mencari posisi yang pas dibawah ketiakku. OMG!!!!!, "Ayank, kmu lagi ngapain" tanyaku. "Aku ga bisa bo2, ga pa2 kan aku bo2 diketiakmu? tanyanya sambil memelas. Mau ga mau aku mengiyakannya. Dan hasilnya, sepanjang malam itu entah berapa kali aku kaget dan terbangun sambil berkata "sini2 ayank, bo2 di ketiakku" (menurut Si Udul2 sih) dan itu terjadi selama kami berada di Yogya, setiap malam.

Tenyata kegiatan tidur dibawah ketiakku yang dilakukan oleh Si Udul2 tidak hanya berhenti selama di Yogya saja. Sepulang dari Yogya, kami sempat menginap di salah satu hotel di Denpasar dan kembali lagi kegiatan tidur diketiakku dilakukannya. "Ah, mungkin hanya sementara saja" pikirku tetapi tidak. ternyata tidur dibawah ketiakku sudah menjadi kebiasaan buat Si Udul2. Pernah aku mengunjunginya pada Bulan Mei 2012, selama seminggu aku tinggal di Batam dan hasilnya 7 hari 7 malam si Udul2 tidur dibawak ketiakku. Tetapi ada satu malam yang tidak ia lakukan kebiasaannya itu, yaitu sepulangnya aku dari ICU krn penyakit Maag ku yang tiba2 saja kambuh (mungkin karena dia tidak ingin menggangguku).

Di Bulan Maret tahun 2013, aku kembali mengunjunginya di Batam, waktu itu hanya tiga hari saja aku disana. dan kembali lagi dia melakukan kebiasaan tidur di ketiakku. Waktu itu aku merasa benar-benar lelah dan aku pun berkata kepadanya "ayank, maaf aku ga bisa bo2 klo kamu kek gini terus". akhirnya dengan wajah yang masam Si Udul2 langsung berpindah posisi memeluk gulingnya sambil berkata "dasar Bun2 pelit"

Bulan depan, kami akan liburan bersama si Singapore selama 4 hari 3 malam dan aku akan menjemputnya terlebih dahulu ke Batam. Entah kebiasaannya  itu masih ada atau tidak disaat kita di Singapore nanti.

Pada intinya aku tidak keberatan dengan kebiasaannya si Udul2 itu hanya saja mungkin aku butuh waktu untuk membiasakan diri saja. Ya bagaimanapun kedepannya aku akan sering tidur dengannya karena balik dari Singapore, dia akan menetap di Bali. Ya walaupun kami mungkin tidak tinggal bareng, tapi setidaknya frekuensi pertemuan kami akan semakin sering.

Grey 2013


6 Nov 2013

Wisata Kuliner di Batam

Tak ada bosan rasanya untuk mengulas kota kecil ini. Sebelumnya aku pernah menilis mengenai kota ini di artikel Oleh-Oleh Dari Batam http://grey-andrew.blogspot.com/2012/05/oleh-oleh-dari-batam-honeymoon-part-2.html dan kini aku akan mengulas kembali mengenai salah satu tempat wisata kesukaanku ini.


Ada beberapa kolega yang padaku, bertanya kenapa aku suka sekali pergi ke Batam bahkan hampir setiap tahun menyempatkan diri untuk ke Batam? apa spesialnya di Batam yang tidak ada di Bali?. Tentu saja jawaban pertama yang keluar dari mulutku adalah makanannya, makanan dari berbagai wilayah terutama makanan melayu yang jenisnya tak bisa kuhitung lagi. Selain wisata kuliner, Batam juga merupakan surga bagi shopaholic . Tapi berhubung saya tidak terlalu suka shopping, maka saya tidak terlalu memberikan perhatian khusus untuk hal tersebut.

Batam, kota ini memang tidak asing lagi buatku karena di kota inilah seakan tak ada puas nya aku berwisata kuliner. Dari resto mewah sampai di pasar pagi yang becek sudah pernah kujabanin dan justru makanan-makanan yg kelas kaki lima atau kelas pasar becek lebih memuaskan taste lidahku dibandingkan dengan resto-resto mewah.

Untuk kelas resto dan Bistro, saya pernah mencoba La Cruise Batam, Empek2 Pak Raden, Grand Duck, Bistro Godiva, dll dan hasilnya hanya Grand Duck yang bisa mencuri hati saya. Untuk kelas kaki lima Pasar Pagi Penuin selalu menjadi pilihan pertama saya. Segala jenis masakan tersedia mulai dari roti pratta, ayam hainan, epok-epok, otak-otak basah, laksa, siobak, gonggong, jajanan pasar ah pokoknya banyaaaaaak sekali. Dan yang menjadi primadonanya adalah ayam hainan dan roti pratta. 

Oh iya, ada satu lagi tempat kesukaan saya yaitu morning bakery. dari sekian banyak cabang, saya paling suka nongkrong di morning bakery windsor. Walaupun bisa dibilang tempat ini yang paling ramai dibandingkan dengan lokasi lainnya, tapi entah mengapa saya nyaman sekali ditempat ini. menikmati secangkir kopi hitam pekat yang pahit dan sepotong roti sudah lebih dari cukup untuk mengawali hari yang panjang di Batam.

Batam memang tak seindah Bali, tapi kota ini akan selalu punya tempat spesial dihatiku ^_^ .


Note:

Cobalah untuk breakfast di Swiss Belinn Jodoh - Batam. Mereka mungkin tidak punya fasilitas mewah hotel bintang 5 tapi pilihan menu di buffet breakfast nya setara kualitas hotel bintang 5 (highly recommended).

Grey 2013




Pondok Ikan Bakar Batam Center 

Lo Ma Kai Grand Duck
  
Sate Padang Nagoya Hill

Ayam cabai hijau 808 Windsor


Ayam Taliwang Pelita


Martabak Sari Eco (Juara)

Otak2 Basah

Morning Bakery

Roti Pratta Pasar Penuin

Siobak Pasar Penuin

Ayam Hainan Pasar Penuin (Juara)

Epok2 Astro

Gulai Ikan di (lupa nama resto padangnya)



Hobby Baru Si Grey

Cuaca malam ini begitu panas di Bali yang membuatku tidak bisa tidur dan jadilah ditinggal bo2 sama si Udul2. Nonton tv tp ga ada acara yang bermutu, dengerin radio, ga ada yg menarik programnya. Fhiuuuh, jadilah kuhidupkan lappie sambil duduk bersandar di sofa dan diiringi lagu2 koleksi mp3 yg kuputar dari home theater di kamar.

Malam ini aku mau sharing hobby baruku yaitu gowes. Jadi ceritanya dua bulan lalu ada seorang teman lama yang lagi kecanduan gowes dan akhirnya mengajakku serta. Awalnya aku bingung karena tidak punya sepeda gayung (MTB) jadi aku minta ijin si Udul2 buat beli sepeda baru dan kebetulan dia juga mendukung keinginanku (maklum dia itu punya obsesi membuat aku kurus). Jadilah aku survey ke beberapa toko sepeda tapi anehnya dari sekian banyak pilihan, tidak ada satupun yang nyangkut dihatiku. Akhirnya aku meminta advice dari bokap siapa tau dia punya kenalan yang punya toko sepeda. Tidak lama setelah aku mengutarakan keinginanku untuk membeli sepeda gunung kepada bokap, tiba2 di garase rumah terpampang sebuah sepeda gayung berwarna hijau stabilo.  Dan yang lebih membuatku kaget adalah ternyata sepeda yang aku lihat itu adalah sepeda gayungku jaman SMP dulu yang sudah di perbaiki dan di cat ulang oleh bokap ( bokapku the best lah). Memang hasilnya tidak sebagus sepeda gunung baru tapi aku benar2 jatuh cinta pada si hijau itu.

Akhirnya hari yang dijanjikan oleh temanku untuk bersepeda bareng pun tiba juga. Setelah berpamitan dengan si Udul2 dan dengat semangat 45 yang membara, perlahan tapi pasti ku kayuh sepedaku. Aku masih ingat rute awal pertama kali aku gowes adalah Denpasar – Legian – Denpasar sejauh 10 km (pp) yang aku tempuh dengan waktu 1,5 jam (pp). Begitu sampai di rumah, tulang2 di sekujur tubuhku terasa mau copot semua dan yang paling parah, aku harus menahan pegal di bokongku selama tiga hari tiga malam (menyebalkan).

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, aku mencoba gowes dengan menempuh rute2 pendek sekitar rumahku. Tanpa terasa, perlahan tubuhku mulai bisa menyesuaikan dengan kegiatan baruku ini dan impact nya adalah aku seperti ketagihan untuk mencoba rute2 baru yang lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Untuk hari kerja, aku biasanya gowes setelah pulang kerja dari pukul 6 sore sampai pukul 8 malam dan rutenya selalu sama yaitu Denpasar-Imam Bonjol-Nakula-Sunset Road-Bypass Ngurah Rai-Denpasar setiap 2 hari sekali. Sedangkan untuk weekend (sabtu-minggu) aku bisa gowes 2 kali dalam sehari yaitu dipagi dan sore hari dan rutenya bervariasi seperti daerah Seminyak, Legian, Kuta, Sanur dan sekitarnya.
Adapun rute terjauh yang pernah aku tempuh adalah pada hari sabtu lalu yaitu Denpasar-Pemogan-Bypass Ngurah Rai-Sanur-Danau Tempe-Sidakarya-Sesetan-Denpasar dengan total jarak kurang lebih 25 km dan memakan waktu 2 jam. Dalam perjalanan tersebut, aku menyempatkan diri untuk mampir di Pantai Merta Sari Sanur untuk menikmati sunrise dengan melewati kawasan mangrove.

Hari ini pun sepulang kerja aku gowes dengan tujuan melihat sun set di pantai 66 (double six) Legian. Berhubung jam 6 sore aku baru berangkat dari rumah jadi begitu sampai di tkp , matahari sudah tidak terlihat lagi. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa mengurangi sedikit kepenatan pikiranku karena pekerjaan dengan gowes.


Grey 2013










  






12 Okt 2012

Tentang Rasa

Sepertinya sudah lama aku tidak menyumbang tulisan di lapak si Bun2, baiklah tanpa mengurangi niat tulusku untuk menyumbang tulisan kali ini aku akan menceritakan sedikit cerita diantara kami.

Siang itu, kami lagi mengobrol lewat telpon (as you know deh gaya pacaran orang LDR) tentang akun fb, tiba-tiba si Bun2 teringat dengan akun fb lama yang sudah dia deactivate-kan. Obrolan kami jadi melebar kemana-mana terutama menyangkut ke mantan. Alhasil lanjutlah kita buka-bukaan tentang mantan masing-masing. Kata dia, jantungnya terasa berhenti berdetak saat liat foto si mantan padahal sudah lama dia putus dan tidak pernah berhubungan dengan mantannya. Sebaliknya aku agak terkejut juga mendengar pengakuannya, secara selama pacaran denganku saja dia gak pernah bilang seperti itu tapi buru-buru perasaanku ini kutepis karena aku berfikir ya wajarlah namanya juga mantan, orang yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu. Kata dia lagi, semua perasaan tertumpah campur aduk saat dia liat foto si mantan tapi yang paling dominan adalah rasa perih. Ya rasa perih.

Aku bisa memaklumi perasaannya karena aku juga punya mantan namun yang kurasakan saat lihat foto mantan dengan apa yang dirasakan Bun2 saat lihat mantannya tidaklah sama. Jujur kalau ditanya perasaanku saat lihat foto si mantan tak ubahnya aku melihat objek keseharian. Aku justru terkesan dengan alam, dengan suasana mendung pagi di kota mantan dan ha-hal kecil tentang kebersamaan saat itu. Tak jarang mendung di pagi hari sering membuatku galau, seperti memutar balik suasana pagi di kota itu.
Nilai rasa memang tidak selalu sama pada setiap orang, ketika kita melihat objek itu berharga, indah, baik atau buruk adalah tergantung korelasi kita dengan si objek. Semakin dekat korelasi kita dengan si objek maka penilaian kita akan cenderung subyektif dan mengesampingkan logika. Tak heran kalau cinta itu tanpa logika.
Memutar balik kisah-kisah kami dengan mantan bukanlah bermaksud membangkitkan luka lama, bukan juga untuk membuat pasangan cemburu atau menjelek-jelekkan mantan, namun sebagai pelajaran yang kita ambil hikmahnya untuk menata masa depan. Masa lalu adalah cermin proses belajar dalam hidup.

Cinta memang merupakan keharusan dalam suatu hubungan tapi bukan berarti cinta adalah segalanya dalam suatu hubungan. Aku tahu, perasaan cinta si Bun2 kepadaku tidaklah sebesar perasaan cintanya kepada mantan pertama begitu pun sebaliknya. Tapi aku selalu punya keyakinan kalau si Bun2 tidak akan bisa hidup tanpa diriku (*asli lebay) karena dia sudah ada keterikatan bathin denganku *ini efek upgrade pelet semalem, dukunnya top margotop!

Let’s say thanks to the past and welcome to the future.




@AWD 2012

15 Jun 2012

Untitled




Pengalaman adalah ilmu kehidupan yang tidak diajarkan oleh sekolah manapun di dunia ini.

Enam tahun sudah sejak pertama kali aku memantapkan hatiku menjalani kehidupan sebagai seorang lesbian. Banyak sekali pengalaman hidup yang aku dapatkan selama enam tahun berkecimpung di jalan ini. Dengan menjadi seorang lesbian aku mendapatkan ilmu kehidupan yang tidak diajarkan oleh sekolah ataupun universitas manapun di dunia ini. Suka, duka, sedih, senang, intrik, penghianatan, penipuan, perjuangan, persahabatan dan cinta adalah pengalaman berharga yang membentuk aku menjadi aku yang sekarang.


Sesekali pernah aku merasa lelah dan ingin mengakhiri semuanya. Tetapi kembali lagi aku berfikir aku tidak meminta dilahirkan sebagai seorang lesbian tetapi kenyataannya aku terlahir sebagai seorang lesbian dan aku akan menjalani hidupku sebagai seorang lesbian. Memang berat dan bisa dibilang sangat berat karena tidak mudah menjadi orang yang berbeda terlebih lagi minoritas yang lebih sering dianggap sampah masyarakat tetapi seiring dengan berjalannya waktu semua akan terasa ringan, terlebih lagi jika kita menjalani apa yang kita yakini maka selalu ada jalan untuk kaki kita melangkah.


Sebenarnya aku lebih beruntung dibandingkan teman-teman yang lain. Terlahir di jaman yang sudah lebih modern dalam era globalisasi dimana pengetahuan mengenai LGBT sudah bukan hal yang tabu lagi sehingga adalah hal yang biasa jika seseorang lebih memilih hidup sendiri dibandingkan menikah dengan laki-laki.Ya meskipun masih ada sesekali suara-suara sumbang yang mencibir seseorang wanita yang tidak menikah terlebih lagi jika tinggal di daerah yang adat dan budaya yang sangat kuat dan mendarah daging.


Kini, semuanya berbuah manis. Keluarga yang sudah bisa menerima keadaanku (walaupun sesekali ada saja laki-laki yang dibawa kerumah untuk dikenalkan kepadaku), atasan dan kolega yang tidak pernah mempermasalahkan urusan pribadiku walaupun mereka mengetahui keadaanku dan yang terpenting kekasih yang dengan tulus selalu mendukung setiap langkah kakiku meraih impian dan cita-cita.

@Grey 2012

20 Mei 2012

Honeymoon Part 2; Oleh-Oleh Dari Batam

Entah hanya kebetulan saja atau aku memang berjodoh dengan tempat ini, setelah dua tahun berlalu, akhirnya aku kembali lagi ke Pulau yang terletak hanya 30 menit saja dari negara tetangga Singapura yang merupakan tempat merantau si Gek. Batam, pulau yang penuh sesak dengan pendatang dari hampir semua wilayah di Indonesia, Singapura dan beberapa negara lainnya terutama yang menginvestasikan uang mereka di wilayah industri terbesar di Indonesia ini.


Tujuanku kembali ke Batam adalah untuk mengunjungi kekasihku Gek Awd, sekaligus merayakan Hari Ulang Tahunku yang ke 26 yang jatuh pada tanggal 17 Mei kemarin. Berbekal pengalaman liburan di Yogyakarta pada awal tahun kemarin, akhirnya aku dan Gek memutuskan untuk tinggal di homestay saja yang kebetulan terletak di dalam salah satu Mall terbesar dan teramai di Batam yaitu Nagoya Hill Mall daripada menginap di Hotel berbintang.


Homestay tempat kami menginap kalau menurut aku lebih dari cukup dari kata nyaman. Kamar ber-AC, kamar mandi dalam yang bersih dengan dilengkapi air panas dan dingin, tempat tidur ukuran queen size, televisi yang dilengkapi dengan channel dari Indovision, sebuah lemari Baju yang cukup besar, dressing table serta balkon yang luas dengan pemandangan langsung ke Nagoya Hill Mall tetapi dengan rate yang sangat murah, yaitu Rp.100.000,- saja per hari.


Hari pertama aku di Batam bisa dibilang hari yang paling naas karena hari yang seharusnya aku menemani si Gek bermalam mingguan tetapi malah si Gek yang menemani aku di UGD. Aku masuk UGD jam 10 malam karena penyakit maag ku kambuh yang menyebabkan aku hampir tidak bisa bergerak dan sesak nafas. Setelah diinjeksi dan mendapatkan perawatan kurang lebih selama satu jam maka aku diizinkan untuk keluar dari Rumah Sakit dan keesokan harinya si Gek tak henti-hentinya mengomel karena aku tidak mengindahkan peringatannya untuk membawa bekal makanan yang cukup selama perjalanan dari Bali ke Batam ditambah lagi sehari sebelum keberangkatanku, malam harinya aku hanya tidur 4 jam saja.


Hari-hari selanjutnya aku lewati bersama Gek dan sahabat-sahabatku yang ada di Batam. Dimulai dengan mengunjungi patung Dewi Kwan Im terbesar di Indonesia yang terletak di kawasan KTM Resort (dari tempat ini, kita bisa melihat Negara Singapura yang terpisahkan oleh laut), berwisata kuliner di berbagai tempat dan yang terpenting adalah menemani si Gek melakukan hobby nya yaitu Shopping.


Yang tentu saja tidak mau aku lewatkan selama aku di Batam adalah berwisata kuliner. Selama 7 (Tujuh) hari aku liburan di Batam, aku mendatangi beberapa tempat yang menyediakan masakan khas melayu, Indonesia dan Chinese food dan seafood. Dimulai dari restaurant ayam taliwang di kawasan Pelita yang menyajikan masakan khas lombok yaitu ayam taliwang dengan sambalnya yang sangat pedas dan enak. Selanjutnya empek-empek di food court nya Plaza Batamindo yang rasanya tidak kalah dengan empek-empek Pak Raden yang dulu ada di dalam kawasan Nagoya Hill Mall. Lumpia dan bakwan di Restaurant Grand Duck (dulu bernama fisherman restaurant), Martabak telur Sari Eco dengan bumbu kare yang menggoyang lidahku lokasinya depan Nagoya Hill. Maju sedikit ke kawasan Windsor terdapat banyak sekali tempat makan yang bisa membuat ketagihan dimulai dari morning bakery yang menyajikan berbagai roti-roti pilihan dengan kopi tubruknya yang wangi, otak-otak basah tepat di depan morning bakery, Epok-Epok (pastel) dengan 3 pilihan isi yaitu talas, telur dan sarden serta ayam cabe hijau 808 di pinggiran kawasan Windsor. Lanjut ke pasar Penuin, kita bisa mendapatkan masakan khas melayu dari nasi ayam hainan, jajanan pasar, sampai roti prata. Bagi penggemar rujak, ada satu kawasan yang bernama Simpang Rujak (bukit senyum) yaitu kawasan yang khusus menjual rujak baik rujak dengan bumbu kacang maupun bumbu gula. Bagi penggemar seafood bisa coba Pondok Ikan Bakar di Batam Center, dari gonggong (jenis kerang) rebus, ikan bakar sampai kepiting lada hitam lengkap tetapi dari segi rasa masih kalah jauh dengan seafood restaurant yang ada di Bali.


Tak terasa seminggu telah berlalu dan tepat kemarin aku kembali ke Bali. Kembali ke rutinitas keseharianku dengan berbekal pengalaman liburan yang tak akan pernah terlupakan bersama kekasih tercinta dan sahabat-sahabatku



@Grey 2012

4 Feb 2012

Oleh-Oleh Honeymoon; Kamar Mewah Hotel VS Kamarku yang Bau dan Pengap

Begitu banyak cerita begitu banyak kisah dan begitu banyak kenangan yang telah terukir dalam liburanku kali ini tentu saja bersama si gek. Aku bahkan sampai bingung kisah yang mana yg akan kutuliskan di sini sebagai oleh-oleh liburan kami berdua.

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu hal yang membuatku tidak habis pikir sampai sekarang. Mau marah iya, kesel iya, dongkol juga iya rasanya aku benar-benar tidak bisa percaya sampai sekarang.

Selama kami di Jogja, kami menginap di salah satu hotel bintang lima di kawasan palagan tentara. Namanya saja sudah hotel bintang lima, tentu saja kamarnya merupakan kamar yang sangat nyaman dengan king size bed, ac, sofa, tv, ruangan yang selalu wangi, kamar mandi dengan amenities terbaik serta tambahan fasilitas yang diberikan oleh GM nya langsung yaitu tambahan fullboard (kamar termasuk makan dan minum gratis sepuasnya) yang awalnya hanya compliment room only. Semuanya demi menjamu kekasihku tersayang, tetapi kenyataannya selama tiga hari tiga malam si Gek hampir tidak bisa tidur, kalau aku tidak salah selama itu dia hanya tertidur tidak lebih dari saju jam saja.

Sumpah aku bingung banget apa yang sebenarnya terjadi dengan si Gek, dan kebingunganku semakin menjadi-jadi ketika kami pulang ke bali dan aku menawarkan Gek untuk menginap di rumahku dan tidur di kamarku. Sebagai bayangan, kamarku itu sudah tertutup selama 7 hari dan kondisinya berantakan plus bau apek kamar yang tidak pernah mendapat udara segar sedangkan untuk furniture dan fasilitas kamarku hanya ada sebuah kasur single bed, kipas angin, tv dan sebuah lemari. Pertama kali si Gek masuk ke kamarku dia langsung protes. "Kamarmu ini udah berantakan,kotor, bau pula seperti kamar cowok aja" gumamnya sambil merapikan sedikit kain sprei bed ku. Tak lama kemudian aku lihat dia merebahkan tubuhnya diatas kasur dan hanya selang beberapa menit si Gek sudah langsung tertidur dengan pulasnya bahkan saking pulasnya aku jailin dia pun sama sekali tidak membuatnya merasa terganggu.

Yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa selamat menginap di hotel berbintang yang notabena kamarnya sangat nyaman dan mewah tidak bisa membuat partnerku ini tidur dengan nyaman justru ketika dia berada dikamarku yang serba tidak nyaman bisa membuatnay benar- benar merasakan kenyamanan tidur? Jadi tadi pagi aku bilang sama si Gek kalau next time kami liburan lagi, aku ga mau ngajak dia nginep di hotel lagi tapi nginep di kamarku aja,,,

@Grey 2012

19 Apr 2011

Taman Ujung Sukasada (Sukasada Water Palace)

Taman Sukasada (Sukasada Water Palace) merupakan salah satu Istana Air peninggalan Raja terakhir Karangasem I Gusti Bagus Jelantik yang dibangun pada tahun 1919. Taman yang terletak sekitar 85 km ke arah timur dari Bandara Ngurah Rai ini dahulu digunakan sebagai tempat untuk menyambut dan melayani para tamu penting kerajaan dari negara-negara tetangga disamping juga sebagai tempat untuk Raja dan Keluarganya.

Komplek Taman Sukasada ini merupakan perpaduan antara arsitektur Bali, Cina dan Eropa dan berdiri di lahan seluas 9 hektar. Terdapat 3 kolam besar dan luas di dalamnya dimana ditengah kolam utama terdapat bangunan yang menghubungkansisi kolam dengan 2 jembatan. Selain kolam, terdapat juga beberapa Balai yang dibangun ditengan-tengah kolam seperti salah satunya adalah Balai Gili dimana kita bisa melihat foto-foto Raja karangasem beserta anggota keluarga kerajaan serta terdapat juga foto-foto suasana Taman Ujung pada tempo dulu.

Pada tahun 1963, Taman ini rusak akibat letusan Gunung Agung di Karangasem ditambah lagi gempa pada tahun 1976 yang meluluhlantahkan Seririt, Singaraja ikut memperburuk keadaan bangunan ini. Akhirnya pada tahun 1998 secara bertahap Taman ini mulai diperbaiki sampai selesai di tahun 2004 serta akhirnya dibuka kembali untuk umum.

Ada satu lagi hal menarik di taman ini, jika cuaca sedang cerah maka kita dapat melihat birunya langit, indahnya lautan berdampingan dengan Taman ini serta pemandangan Gunung Agung yang jelas dan Gunung Rinjani di Lombok yang tampak dikejauhan. Jika ingin melihat Taman ini secara keseluruhan maka datanglah ke Balai Kapal yang merupakan bangunan yang paling tinggi di Taman ini dimana kita bisa melihat indahnya bangunan ini secara keseluruhan. Hanya dengan tiket masuk sebesar 10 ribu rupiah saja kita bisa menikmati kebesaran dan kemegahan peninggalan sejarah Water Palace Sukasada.