Tampilkan postingan dengan label Hobby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobby. Tampilkan semua postingan

6 Nov 2013

Sunset di Pantai Petitenget

Pantai Petitenget, merupakan salah satu Pantai yang terletak di Desa Kerobokan sekitar 15 menit dari Bandar Udara Ngurah Rai Bali yang kebetulan satu garis pantai dengan Pantai Kuta dan Legian. Berbeda dengan Pantai Kuta dan pantai Legian, Pantai ini relatif lebih sepi dan tenang sehingga menjadi tempat yang tepat untuk menikmati tenggelamnya matahari di sore hari.

Kenapa pantai ini dinamakan Petitenget ini berhubungan dengan mitos Pura Petitenget yang berada di tepi pantai ini. Konon dulunya kawasan ini merupakan daerah yang angker sebelum dibangun pura. Menurut cerita pada zaman dahulu ada seorang Resi bernama Dang Hyang Nirarta. Sebelum melanjutkan perjalanaan menuju Pura Uluwatu, Dang Hyang Nirarta singgah dan bertemu denganBatara Masceti, disela sela pembicaraan terlihat bayangan hitam yang bersembunyi semak-semak setelah dipanggil keluar ternyata Bhuta Ijo. Akhirnya Bhuta Ijo diberi mandat dan kesaktian untuk menjaga peti pecanangan (tempat sirih). Saking setianya Bhuta Ijo setiap penduduk yang datang kekawasan ini untuk mencari kayu bakar dibuat sakit oleh Bhuta Ijo karena dianggap ingin mengambil peti pecanangan. Akhirnya agar makhluk gaib tersebut tidak lagi mengganggu atau mengusik ketenangan masyarakat, dibuatkan bangunan suci untuk tempat pemujaan dan diberi nama Pura Petitenget (peti artinya peti dan tenget artinya angker jadi kalau dijabarkan Petitenget mempunyai pengertian peti yang angker). Sejak saat itu karena berada dalam satu kawasan maka pantainya juga (http://wisatadewata.com/article/wisata/pantai-petitenget)

Kebetulan beberapa waktu lalu aku diculik oleh salah seorang teman untuk menemaninya menikmati indahnya sunset di Pantai Petitenget dan mengabadikannya dengan kameraku. Berikut sedikit gambaran dari lensa kameraku

Grey 2013







Hobby Baru Si Grey

Cuaca malam ini begitu panas di Bali yang membuatku tidak bisa tidur dan jadilah ditinggal bo2 sama si Udul2. Nonton tv tp ga ada acara yang bermutu, dengerin radio, ga ada yg menarik programnya. Fhiuuuh, jadilah kuhidupkan lappie sambil duduk bersandar di sofa dan diiringi lagu2 koleksi mp3 yg kuputar dari home theater di kamar.

Malam ini aku mau sharing hobby baruku yaitu gowes. Jadi ceritanya dua bulan lalu ada seorang teman lama yang lagi kecanduan gowes dan akhirnya mengajakku serta. Awalnya aku bingung karena tidak punya sepeda gayung (MTB) jadi aku minta ijin si Udul2 buat beli sepeda baru dan kebetulan dia juga mendukung keinginanku (maklum dia itu punya obsesi membuat aku kurus). Jadilah aku survey ke beberapa toko sepeda tapi anehnya dari sekian banyak pilihan, tidak ada satupun yang nyangkut dihatiku. Akhirnya aku meminta advice dari bokap siapa tau dia punya kenalan yang punya toko sepeda. Tidak lama setelah aku mengutarakan keinginanku untuk membeli sepeda gunung kepada bokap, tiba2 di garase rumah terpampang sebuah sepeda gayung berwarna hijau stabilo.  Dan yang lebih membuatku kaget adalah ternyata sepeda yang aku lihat itu adalah sepeda gayungku jaman SMP dulu yang sudah di perbaiki dan di cat ulang oleh bokap ( bokapku the best lah). Memang hasilnya tidak sebagus sepeda gunung baru tapi aku benar2 jatuh cinta pada si hijau itu.

Akhirnya hari yang dijanjikan oleh temanku untuk bersepeda bareng pun tiba juga. Setelah berpamitan dengan si Udul2 dan dengat semangat 45 yang membara, perlahan tapi pasti ku kayuh sepedaku. Aku masih ingat rute awal pertama kali aku gowes adalah Denpasar – Legian – Denpasar sejauh 10 km (pp) yang aku tempuh dengan waktu 1,5 jam (pp). Begitu sampai di rumah, tulang2 di sekujur tubuhku terasa mau copot semua dan yang paling parah, aku harus menahan pegal di bokongku selama tiga hari tiga malam (menyebalkan).

Beberapa hari setelah kejadian tersebut, aku mencoba gowes dengan menempuh rute2 pendek sekitar rumahku. Tanpa terasa, perlahan tubuhku mulai bisa menyesuaikan dengan kegiatan baruku ini dan impact nya adalah aku seperti ketagihan untuk mencoba rute2 baru yang lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Untuk hari kerja, aku biasanya gowes setelah pulang kerja dari pukul 6 sore sampai pukul 8 malam dan rutenya selalu sama yaitu Denpasar-Imam Bonjol-Nakula-Sunset Road-Bypass Ngurah Rai-Denpasar setiap 2 hari sekali. Sedangkan untuk weekend (sabtu-minggu) aku bisa gowes 2 kali dalam sehari yaitu dipagi dan sore hari dan rutenya bervariasi seperti daerah Seminyak, Legian, Kuta, Sanur dan sekitarnya.
Adapun rute terjauh yang pernah aku tempuh adalah pada hari sabtu lalu yaitu Denpasar-Pemogan-Bypass Ngurah Rai-Sanur-Danau Tempe-Sidakarya-Sesetan-Denpasar dengan total jarak kurang lebih 25 km dan memakan waktu 2 jam. Dalam perjalanan tersebut, aku menyempatkan diri untuk mampir di Pantai Merta Sari Sanur untuk menikmati sunrise dengan melewati kawasan mangrove.

Hari ini pun sepulang kerja aku gowes dengan tujuan melihat sun set di pantai 66 (double six) Legian. Berhubung jam 6 sore aku baru berangkat dari rumah jadi begitu sampai di tkp , matahari sudah tidak terlihat lagi. Tapi tak apa, setidaknya aku bisa mengurangi sedikit kepenatan pikiranku karena pekerjaan dengan gowes.


Grey 2013