
Dunia maya memang menjadi magnet tersendiri bagai kaum ini. Komunitas L yang menggurita di dunia maya, bahkan sudah merambah hingga ke ruang-ruang pribadi, bahkan mejadi ajang cari jodoh. Dunia maya yang instan tak pelak juga menciptakan hubungan yang instan bagi kaum L. Begitu mudahnya seorang L menyebut "Sista" atau "Kak" atau "Saudariku" dari satu atau dua kali japri.
Bahkan tanpa bertemu muka sekalipun, rasanya seolah "saudara jauh" yang tak pernah bertemu bertahun-tahun. Padahal, dalam dunia maya, sah-sah saja kita menjadi apa dan siapa, bahkan mengaku menjadi seorang artis terkenal pun tidak masalah, lha wong...siapa yang bisa menuntut secara hukum? Tetapi bukankah hubungan yang instan juga memungkinkan kerapuhan yang instan pula? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana menyikapi persahabatan dunia maya yang super instan tetapi rentan kerapuhan, supaya tidak merusak hidup kaum L di dunia nyata?
Ada berbagai alasan lesbian begitu hanyut dan gandrung dengan dunia maya. Dunia nyata yang memarginalkan kaum L ini, menjadi salah satu alasan utama kenapa para L sangat nyaman berada di ruang maya yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Meski dengan topeng-topeng ala dunia maya, penuh penyamaran dan kepalsuan, dunia maya menjadi "ruang tetirah" bagi komunitas L setelah lelah bersembunyi di dunia nyata. Entah kenapa pula, anggota komunitas L (melalui facebook, milis, dll) sangat gandrung dan getol bermain internet, rajin
berkunjung, membaca dan berkomentar di situs-situs L dibandingkan para "hetero", sehingga para facebooker L dan penulis L begitu bergairah memajang karya-karyanya di blog maupun situs L. Selain alasan tersebut, sebagian besar kegandrungan akan dunia maya tentu ada unsur mencari jodoh ya....
Situasi dan alasan-alasan diatas, menyebabkan aura persahabatan dan persaudaraan menjadi kental. Rasa senasib sebagai kaum terpinggirkan menambah kuat alasan kenapa sesama L dengan cepat memproklamir diri sebagai "sista". Apalagi, di dunia maya..para L tidak perlu menutupi rahasianya, akrab sedikit, keluarlah segala rahasia yang selama ini mendekam dengan manis di alam bawah sadar. Para sista pun dengan lengan terbuka menjadi teman curhat, sahabat sehati, pendengar setia, dan embel-embel lainnya.
Namun, jangan salah...keinstanan ini pun terkadang mesti dibayar mahal. Sebab belum pernah bertemu, tak jarang sesama sista berburuk sangka. Belum tahu pribadi "sista"-nya secara utuh, sudah memberi label dan penilaian tersendiri tanpa ada konfirmasi dengan yang bersangkutan. Namanya juga sesama perempuan, sesama sensi, sesama penuh kekawatiran dan kecurigaan, sehingga persahabatan yang terasa indah di awal, bisa-bisa jadi ambruk secara dasyat tanpa tahu penyebabnya. Tak jarang, teror-menteror lewat tulisan terjadi di dunia maya akibat buruknya hubungan. Menjelekkan, menyumpah serapah, memberi komentar-komentar bersifat menyerang di situs atau facebook, oalah.....entah dimana "sista" yang dikenal baik dan bak ibu peri itu....
Arogansi kelompok pun sering memicu "politik persista-an" di dunia maya L. Seseorang yang merasa "kepala kelompok" ingin dihargai, dihormati dan disanjung oleh "sista" lainnya, sehingga ia mengelilingi dirinya dengan tameng-tameng publikasi yang demikian "indah" di situsnya. Di satu sisi, menistakan "sista" yang dianggapnya menentang kepentingannya, merusak citranya atau remeh-temeh. Politik persista-an bukan barang aneh, karena dalam setiap kelompok apa pun pasti akan ada politik dan perang kepentingan. Namun, politik dalam dunia maya L secara tersamar telah mengaburkan nilai persaudaraan itu sendiri, merapuhkan nilai-nilai kekuatan kelompok akibat ketermajinalan di masyarakat, memecah tujuan kelompok L yang tentunya ingin membangun rasa kebersamaan karena telah terbuang dari dunia nyata.
Selama ini, belum ada kelompok L manapun di Indonesia yang mampu merangkul semua kaum L, menjadi "sista" yang benar-benar "sista". Dunia maya sebagai media ampuh untuk memersatukan kaum L di negeri ini, justru akhirnya karena keinstanannya malah menciptakan perpecahan yang lebih instan buat kaum L. Sehingga, kebanyakan kaum L menganggap dunia maya sebagai persinggahan sementara, bahkan banyak pula yang telah meninggalkannya. Dunia maya akhirnya menjadi "taman bermain" dan bukan sebagai forum yang akhirnya mendewasakan serta mendidik para L jadi pintar. Dan para sista lama diganti dengan sista baru atau sista lama yang berganti dengan "seragam baru"..Oh, rapuhnya dunia maya....
@Geronimo Hiawata, juara Harapan Satu Kategori Have Your Say dengan judul, "Ketahuan Menjadi Lesbian" pada Perlombaan Menulis di Website Sepocikopi 2011.
Naskah esay "Rapuhnya Persahabatan Dunia Maya Lesbian" ini, salah satu naskah yang dikirim ke Sepocikopi yang hingga saat ini tidak mendapat tanggapan dari tim redaksi Sepocikopi, apakah masuk nominasi atau tidak.
Bahkan tanpa bertemu muka sekalipun, rasanya seolah "saudara jauh" yang tak pernah bertemu bertahun-tahun. Padahal, dalam dunia maya, sah-sah saja kita menjadi apa dan siapa, bahkan mengaku menjadi seorang artis terkenal pun tidak masalah, lha wong...siapa yang bisa menuntut secara hukum? Tetapi bukankah hubungan yang instan juga memungkinkan kerapuhan yang instan pula? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana menyikapi persahabatan dunia maya yang super instan tetapi rentan kerapuhan, supaya tidak merusak hidup kaum L di dunia nyata?
Ada berbagai alasan lesbian begitu hanyut dan gandrung dengan dunia maya. Dunia nyata yang memarginalkan kaum L ini, menjadi salah satu alasan utama kenapa para L sangat nyaman berada di ruang maya yang menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Meski dengan topeng-topeng ala dunia maya, penuh penyamaran dan kepalsuan, dunia maya menjadi "ruang tetirah" bagi komunitas L setelah lelah bersembunyi di dunia nyata. Entah kenapa pula, anggota komunitas L (melalui facebook, milis, dll) sangat gandrung dan getol bermain internet, rajin
berkunjung, membaca dan berkomentar di situs-situs L dibandingkan para "hetero", sehingga para facebooker L dan penulis L begitu bergairah memajang karya-karyanya di blog maupun situs L. Selain alasan tersebut, sebagian besar kegandrungan akan dunia maya tentu ada unsur mencari jodoh ya....
Situasi dan alasan-alasan diatas, menyebabkan aura persahabatan dan persaudaraan menjadi kental. Rasa senasib sebagai kaum terpinggirkan menambah kuat alasan kenapa sesama L dengan cepat memproklamir diri sebagai "sista". Apalagi, di dunia maya..para L tidak perlu menutupi rahasianya, akrab sedikit, keluarlah segala rahasia yang selama ini mendekam dengan manis di alam bawah sadar. Para sista pun dengan lengan terbuka menjadi teman curhat, sahabat sehati, pendengar setia, dan embel-embel lainnya.
Namun, jangan salah...keinstanan ini pun terkadang mesti dibayar mahal. Sebab belum pernah bertemu, tak jarang sesama sista berburuk sangka. Belum tahu pribadi "sista"-nya secara utuh, sudah memberi label dan penilaian tersendiri tanpa ada konfirmasi dengan yang bersangkutan. Namanya juga sesama perempuan, sesama sensi, sesama penuh kekawatiran dan kecurigaan, sehingga persahabatan yang terasa indah di awal, bisa-bisa jadi ambruk secara dasyat tanpa tahu penyebabnya. Tak jarang, teror-menteror lewat tulisan terjadi di dunia maya akibat buruknya hubungan. Menjelekkan, menyumpah serapah, memberi komentar-komentar bersifat menyerang di situs atau facebook, oalah.....entah dimana "sista" yang dikenal baik dan bak ibu peri itu....
Arogansi kelompok pun sering memicu "politik persista-an" di dunia maya L. Seseorang yang merasa "kepala kelompok" ingin dihargai, dihormati dan disanjung oleh "sista" lainnya, sehingga ia mengelilingi dirinya dengan tameng-tameng publikasi yang demikian "indah" di situsnya. Di satu sisi, menistakan "sista" yang dianggapnya menentang kepentingannya, merusak citranya atau remeh-temeh. Politik persista-an bukan barang aneh, karena dalam setiap kelompok apa pun pasti akan ada politik dan perang kepentingan. Namun, politik dalam dunia maya L secara tersamar telah mengaburkan nilai persaudaraan itu sendiri, merapuhkan nilai-nilai kekuatan kelompok akibat ketermajinalan di masyarakat, memecah tujuan kelompok L yang tentunya ingin membangun rasa kebersamaan karena telah terbuang dari dunia nyata.
Selama ini, belum ada kelompok L manapun di Indonesia yang mampu merangkul semua kaum L, menjadi "sista" yang benar-benar "sista". Dunia maya sebagai media ampuh untuk memersatukan kaum L di negeri ini, justru akhirnya karena keinstanannya malah menciptakan perpecahan yang lebih instan buat kaum L. Sehingga, kebanyakan kaum L menganggap dunia maya sebagai persinggahan sementara, bahkan banyak pula yang telah meninggalkannya. Dunia maya akhirnya menjadi "taman bermain" dan bukan sebagai forum yang akhirnya mendewasakan serta mendidik para L jadi pintar. Dan para sista lama diganti dengan sista baru atau sista lama yang berganti dengan "seragam baru"..Oh, rapuhnya dunia maya....
@Geronimo Hiawata, juara Harapan Satu Kategori Have Your Say dengan judul, "Ketahuan Menjadi Lesbian" pada Perlombaan Menulis di Website Sepocikopi 2011.
Naskah esay "Rapuhnya Persahabatan Dunia Maya Lesbian" ini, salah satu naskah yang dikirim ke Sepocikopi yang hingga saat ini tidak mendapat tanggapan dari tim redaksi Sepocikopi, apakah masuk nominasi atau tidak.